Can we?
My Odd World
Sekedar tempat untuk meluapkan uneg-uneg yang tak sempat terucap.
26.5.12
25.5.12
Semacam tau tapi gak pengen tau
Dosen: Nanti akan ada senior kalian yang menjelaskan terlebih dahulu bagaimana cara mempresentasikan skripsi. Sekedar informasi, senior kalian ini baru saja selesai ujian skripsi tadi pagi.
Mahasiswa:
A: Skripsi?
B: iya, skripsi.
A: Nah, ujian skripsi tuh apa sih?
B: Itu loh, ujian bikin bakwan.
A: *ngangguk-ngangguk*. Pasti enak.
B: Pastinya.
Mahasiswa:
A: Skripsi?
B: iya, skripsi.
A: Nah, ujian skripsi tuh apa sih?
B: Itu loh, ujian bikin bakwan.
A: *ngangguk-ngangguk*. Pasti enak.
B: Pastinya.
23.5.12
20.5.12
Bear Family Song
Gom se mari ga, Han jib e isseo
Appa gom, eomma gom, eigi gom
appa gom eun tungtunghae
eomma gom eun nalssinhae
aegi gom eun neomi gwiyeoweo
hichuk hichuk jalhanda
Bekas Jejak
Hari minggu, Tanggal 20 mei 2012.
Waktu masih menunjukkan pukul 7.15 pagi saat seorang gadis belia bernama Zahra Aulianissa membuka matanya dari tidur cantik.Ini hari Minggu, bangun siang kan gak apa-apa, ujarnya dalam hati. Masih dalam keadaan setengah sadar, sayup-sayup terdengar suara teriakan orang yang sepertinya sedang melakukan tranksaksi. "Gue mau nasi kuning ya!" teriak suara yang sudah sangat familiar di telinga Zahra. Ya, tidak salah lagi itu pasti suara pemilik kamar nomor 5 A, Nurjannah Melynda. Wanita ceria penyuka es krim Magnum Strawberry yang tengah merindukan momen-makan-roti-bakar-isi-keju-coklat dan biasa dipanggil Melyn ini memang memiliki suara keras, ah tidak, bukan keras, tapi penuh dengan semangat.
Mata Zahra masih terpejam ketika ia meraba-raba lantai di dekat badan kasurnya, mencoba mencari ponsel untuk kemudian mengirim pesan singkat pada tetangganya tersebut. Pesan tersebut berisi, Mel, mau kemana?. Tidak memakan waktu lama untuk saudara Melyn membalasnya, Gak kemana-mana. Ini gue di kamar kok. Lo dimana?. Zahra yakin nyawanya masih belum terkumpul semua, jiwanya masih layu, tapi ia harus bangun sekarang agar tidak kembali tertidur. Diambilnya posisi duduk lalu dilipatnya selimut biru bergambar kartun bebek. Tak ingin membuat Melyn menunggu, ia meraih ponsel yang sempat lari dari tangannya, Gue di kamar kok. Galau. Pikirannya kembali melayang. Tampaknya gadis ini belum menemukan pil mujarab untuk rasa kehilangan yang ditinggalkan oleh seseorang padanya. Ya, gadis ini terlalu lelah. Bahkan gadis ini baru saja sembuh dari penyakit demam yang sempat menyerang dirinya beberapa hari yang lalu, haruskah ia kembali berhadapan dengan penyakit kronis bernama 'kehilangan'? Sesuai dugaan, di dalam pesan singkat yang dikirim Melynda ada pertanyaan Sama siapa?.
Bukan, bukan karena siapa, tapi kenapa. Kenapa seseorang harus pergi meninggalkan orang yang dicintainya? Tak bisakah dia menetap? Kenapa orang yang saling mencinta dapat melukai satu sama lain? Kenapa harus ada jarak antara kekasih yang sedang dilanda asmara?
Mungkin karena bekas yang ditinggalkan terlalu dalam.
Mungkin gadis ini yang salah sehingga membiarkan orang tersebut menanam duri di hatinya.
Terlalu banyak kemungkinan.
Gadis ini tidak ingin tahu. Ia menutup telinganya.
Dan memang gerakan separatis tidak menyelesaikan apapun.
Untuk kamu yang jauh.
Maaf (pernah) berkhianat.
Terima Kasih telah membukakan aku pintu.
Zahra aulianissa Agoes.
Subscribe to:
Posts (Atom)

